Mukaddimah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan
menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala
puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan
amal, atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad,
pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para
sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
Kalau
saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah
bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat
manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan
menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan
syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu
tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan
kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut
nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang
yang tulus ikhlas mendo'akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan
keselamatan di akherat. Begitu do'a saya dalam istikharah ketika akan menulis
kitab ini.
Kitab ini saya beri nama Ta'limul Muta'alim Thariqatta'allum.
Yang terdiri dari tiga belas pasal.
Pertama, menerangkan hakekat ilmu,
hukum mencari ilmu, dan keutamaannya.
Kedua, niat dalam mencari ilmu.
Ketiga, cara memilih ilmu, guru,
teman, dan ketekunan.
Keempat, cara menghormati ilmu dan
guru
Kelima, kesungguhan dalam mencari ilmu,
beristiqamah dan cita-cita yang luhur.
Keenam, ukuran dan urutannya
Ketujuh, tawakal
Kedelapan, waktu belajar ilmu
Kesembilan, saling mengasihi dan saling
menasehati
Kesepuluh, mencari tambahan ilmu
pengetahuan
Kesebelas, bersikap wara' ketika
menuntut ilmu
Kedua
belas, hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya.
Ketiga belas, hal-hal yang mempermudah
datangnya rijki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur.
Tidak
ada penolong kecuali Allah, hanya kepada-Nya saya berserah diri, dan
kehadirat-Nya aku kembali.
Gumukmas,
13 April 2013
Penyusun
ulang
SOLEHUDIN
FASAL 1
PENGERTIAN ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA.
A.
Kewajiban Belajar.
Rasulullah
saw bersabda : "Menuntut
ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan".
Perlu
diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan
ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang
menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia.
Sehingga ada yang berkata,
"Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia
adalah menjaga perilaku."
Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.
Oleh
karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib
mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan
shalat dengan sempurna.
Setiap
orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang
akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang
menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara
tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan
kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu
tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang
jual beli jika berdagang.
Muhammad
bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud,
beliau menjawab, "aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual
beli." Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari
hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.
Setiap
orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang
dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang
juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya
tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada
segala keadaan.
B. Keutamaan Ilmu.
Tidak
seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu
khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan
bisa dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan.
Allah
Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu,
malaikat di perintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as.
Ilmu
itu sangat penting karena itu sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan
taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan
yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam
syairnya : "Belajarlah!
Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala
pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu
yang berguna."
Belajarlah
ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat
membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajarai.
Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk.
Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu
orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara' lebih berat bagi setan daripada
menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.
C. Belajar Ilmu Akhlaq
Setiap
orang islam juga wajib mengetahui/mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela,
seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah diri, congkak,
menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil terlalu hemat dan
sebagainya. Sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak
mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria
sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu
orang islam wajib mengetahuinya.
Asy-Syahid
Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut
sangat bermutu, dan perlu dibaca. Karena setiap orang wajib memelihara
akhlaknya.
D. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram dipelajari.
Adapun
mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat tertentu seperti shalat
zenajah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu tempat/daerah
sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari
kewajiban. Tapi bila di suatu daerah tak ada seorangpun yang mempelajarinya
maka seluruh daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib memerintahkan
kepada rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut.
Pemerintah berhak memaksa mereka untuk mereka untuk melaksanakannya.
Dikatakan
bahwa mengetahui/mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu ain itu ibarat
makanan yang di butuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang
hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh
setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan
mempelajari ilmu nujum itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang
sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka,
karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari taqdir Tuhan.
Oleh
karena itu, setiap orang islam wajib mengisi seluruh waktunya dengan berzikir
kepada Allah, berdo'a, memohon seraya merendahkan diri kepadaNya, membaca
Al-Qur'an,dan bersedekah supaya terhindar dari mara bahaya.
Boleh
mempelajari ilmu nujum (ilmu falaq) untuk mengetahui arah kiblat, dan
waktu-waktu shalat.
Boleh
pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang
tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung dan lain-lainnya.Karena Nabi
juga pernah berobat.
Imam
Syafi'I rahimahullah berkata, "ilmu itu ada dua, yaitu ilmu piqih untuk mengetahui hukum
agama, dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan."
E. Definisi Ilmu.
Ilmu
ditafsiri dengan : Sifat yang dimiliki seseorang, maka menjadi jelaslah apa
yang terlintas di dalam pengertiannya. Fiqih adalah: Pengetahuan tentang
kelembutan-kelebutan ilmu. Ujar Abu Hanifah : Fiqih adalah pengetahuan tentang
hal-hal yang berguna, yang berbahaya bagi diri seseorang. Ujarnya lagi : Ilmu
itu hanya untuk diamalkannya, sedang mengamalkan di sini berarti meninggalkan
orientasi demi akhirat.
Maka
seyogyanya manusia jangan sampai lengah diri dari hal-hal yang bermanfaat dan
berbahaya di dunia dan akhirat. Dengan demikian dia akan mengambil mana yang
bermanfaat dan menjauhi mana yang berbahaya, agar supaya baik akal dan ilmunya
tidak menjadi beban pemberat atas dirinya dan menambah siksanya. Kita
berlindung kepada allah dari murka dan siksanya.
Dalam
masalah kebaikan keistimewaan dan keutaman ilmu itu, banyaklah ayat-ayat
al-quran dan hadis-hadis shahih dan masyhur yang mengemukakannya. Namun kali
ini tidak kami kedepankan, agarlah uraian kitab ini tidak terlalu
berkepanjangan.
FASAL II
NIAT DI WAKTU BELAJAR
- Niat Belajar.
Wajib
berniat waktu belajar. Sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal,
sebagaimana sabda nabi saw : Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu terserah
niatnya" Hadits shahih.
Dari
beliau pula diriwayatkan sebuah hadits : ''Banyak amal perbuatan yang berbentuk
amal dunia, lalu menjadi amal akhirat yang karena bururk niatnya maka menjadi
amal dunia."
- Niatan Baik dan Buruk.
Di waktu belajar hendaklah berniat mencari Ridha Allah swt.
Kebahagian akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh,
mengembangkan agama dan melanggengkan islam sebab kelanggengan islam itu harus
diwujudkan dengan ilmu. Zuhud dan taqwapun tidak sah jika tanpa berdasar ilmu.
Syaikhul
imam Ajall Burhanuddin Shahibul Hidayah menyanyikan syair gubahan sebagian
ulama :
- Hancur lebur, orang alim tak teratur
Lebih
lebur, bila si jahil ibadah ngawur
- Keduanya menjadi fitnah,menimpa ganas di dunia
Atas
yang mengikutinya, sebagai dasar peri agama.
Dengan
belajar pula, hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang
sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia
ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasai-penguasa lain.
Muhammad Ibnul Hasan berucap: 'andaikan seluruh manusia itu
manjadi budak belianku, niscaya kumerdekakan seluruhnya dan bebaskan dari
kekuasaanku.
- Kelezatan dan Hikmah Ilmu.
Siapa saja telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal,
maka semakin kecillah kegemarannya akan harta benda dunia. Syaikhul Imamil
Ajall Ustadz Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin ismail Ash-Shoffar Al-Anshoriy
membacakan kami syair imla' abu hanifah :
- Siapa saja gerangan, menuntut ilmu untuk hari kemudian untuklah dapat keutamaan, anugrah Allah penunjuk jalan
- Aduh, saja merugi, penuntut ilmu nan suci
Hanya
buat sesuap nasi, dari hamba ilahi.
Tetapi
jikalau dalam meraih keagungan itu demi amar ma'ruf nahi munkar, memperjuangkan
kebenaran dan meluhurkan agama bukan untuk keperluan hawa nafsu sendiri
makadiperbolehkan sejauh batas telah dapat menegakkan amar ma'ruf nahi munkar
tersebut.
Penuntut
ilmu hendaknya memperhatikan apa yang tersebut diatas. Ia telah mengatasi
kepayahan yang cukup banyak, maka jangan sampai ilmu yang telah ia peroleh itu
digunakan sarana bendahara duniawi yang hina, sedikit nilainya dan segera
hancur ini. Syair menyebutkan :
- Dunia itu sedikit, dan paling sedikit
Pecintanyapun
hina, nan hina dina
- Sihir dunia, membuat tuli dan buta
Kebingungan,
tak tahu ke mana jalan
- Pantangan Ahli ilmu.
Orang berilmu itu hendaklah jangan membuat dirinya sendiri
menjadi hina lantaran tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, jangan
sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan ilmu dan ahli ilmu. Ia supaya berbuat
tawadu' (sikap tengah-tengah antara sombong dan kecil hati), berbuat iffah,
yang keterangan lebih jauhya bisa kita dapati dalam kitab akhlaq.
Syaikhul
imamil ajall ustadz ruknul islam yang terkenal sebagai sasterawan ternama
mengemukakan gubahan syi'irnya:
- Tata kerama, benar-benar budi orang taqwa
Ia
menanjak tinggi, dengan sikap
- Ajaib, ajaiblah orang tidak tahu dirinya sendiri
Bahagiakah
nanti, apa malah celaka diri ?
- Bagaimana waktu meninggalkan dunia, pungkasan umur nyawanya.
Suul
khatimah, apa husnul khatimah?
- Keagungan, itu khusus sifat ar-rahman
Singkirlah,
waspadalah!
Kepada sahanat-sahabatnya, abu Hanifah berkata :
''besarkanlah putaran serban kalian, dan perlebarlah lobang lengan baju
kalian". ucapan ini dikemukakan agar supaya ilmu dan ahli ilmu tidak
terpandang remeh.
- Saran Khusus Buat pelajar.
Sebaiknya pelajar bisa mendapatkan buku wasiat tulisan Abu
Hanifah (yang tadinya) untuk Yusuf Bin Khalid As-Simty waktu pulang kembali
ketengah-tengah keluarganya. Dan buku ini bisa didapatkan oleh yang mau
mencarinya. Guru kita sendiri, yaitu Syaikhul Imam Burhanul Immah Aliy Abu
Bakar semoga Allah mensucikan ruhnya yang mulya itu adalah juga memerintahkan
kami waktu mau pulang ke daerah agar menulis buku tersebut, dan kamipun
melakukannya. Sang guru dan mufti (pemberi fatwa) bidang pergaulan manusia,
tidak boleh tidak juga memegangi buku wasiat tersebut.
FASAL III
MEMILIH ILMU, GURU,TEMAN
DAN KETABAHAN BERILMU
A. Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih.
Bagi
pelajar, dalam masalah ilmu hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan
dalam kehidupan agmanya pada waktu itu, lalu yang untuk waktu yang akan datang.
Hendaknya
lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya.
Karena orang yang imannya hanya taklid sekalipun menurut pendapat kita sudah
syah, adalah tetap berdosa karena ia tidak mau beristidlal dalam masalah ini.
Hendaknya
pula memiluh ilmi-ilmu yang kuna, bukan yang baru lahir. Banyak ulama berkata :
"Tekunilah ilmu kuna, bukan yang baru saja ada." Awas, jangan sampai
terkena pengaruh perbantahan yang tumbuh subur setelah habisnya ualama besar,
sebab menjurus untuk menjauhkan pelajar dari mengenali fiqh, hanya menghabiskan
usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan.
Dan itulah termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fiqih dan
pengetahuan-pengetahuan lain, demikianlah menurut hadits.
B. Syarat-syarat Guru Yang dipilih
Dalam
memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro' dan juga lebih tua
usianya. Sebagaimana Abu Hanifah setelah lebih dahulu memikir dan
mempertimbangkan lebih lanjut, maka menentukan pilihannya kepada tuan Hammad
Bin Abu Sulaiman.
Dalam
hal ini dia berkata : "beliau saya kenal sebagai orang tua yang budi
luhur, berdada lebar serta penyabar. Katanya lagi: saya mengabdi di pangkuan
tuan Hammad Bin Abu Sulaiman, dan ternyata sayapun makin berkembang."
C. Bermusyawarah
Abu
Hanifah berkata : Saya mendengar salah seorang ahli hikmah Samarkand berkata:
Ada salah seorang pelajar yang mengajakku bermusyawarah mengenai
masalah-masalah mencari ilmu, sedang ia sendiri telah bermaksud ke Bochara
untuk belajar disana.
Demikianlah,
maka seharusnya pelajar suka bermusyawarah dalam segala hal yang dihadapi.
demikian, karena Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw. Agar memusyawarahkan
segala halnya. Toh tiada orang lain yang lebih pintar dari beliau, dan masih
diperintahkan musyawarah, hingga urusan-urusan rumah tangga beliau sendiri.
Ali
ra berkata : "Tiada seorangpun yang rusak karena musyawarah", Ada
dikatakan : "Satu orang utuh, setengah orang dan orang tak berarti. Orang
utuh yaitu yang mempunyai pendapat benar juga mau bermusyawarah; sedang
setengah orang yaitu yang mempunyai pendapat benar tetapi tidak mau
bermusyawarah, atau turut bermusyawarah tetapi tidak mempunyai pendapat; dan
orang yang tidak berarti adalah yang tidak mempunyai pendapat lagi pula tidak
mau ikut musyawarah." Kepada Sufyan Ats-Tsuriy, Ja'far Ash-Shodik ra
berkata: "Musyawarahkan urusanmu dengan orang-orang yang bertaqwa kepada
Allah."
Menuntut
ilmu adalah perkara paling mulya, tetapi juga paling sulit. Karena itulah,
musyawarah disi lebih penting dan diharuskan pelaksanaannya.
Al-Hakim
berucap : "Jikalau engkau pergi ke Bochara, janganlah engkau ikut-ikut
perselisihan para imam. Tenanglah lebih dulu selama dua bulan, guna
mempertimbangkan dan memilih guru. Karena bisa juga engkau pergi kepada orang
alim dan mulai belajar kepadanya, tiba-tiba pelajarannya tidak menarik dan
tidak cocok untukmu, akhirnya belajarmupun tidak dapat berkah. Karena itu,
pertimbangkanlah dahulu selama dua bulan untuk memilih gurumu itu, dan
bermusyawarahlah agar tepat, serta tidak lagi ingin berpindah ataupun berpaling
dari guru tersebut. Dengan begitu, engkau mendapat kemantapan belajar di situ,
mendapat berkah dan banyak kemampaatan ilmu yang kamu peroleh."
D. Sabar dan Tabah Dalam Belajar
Ketahuilah! Sabar dan tabah itu pangkal keutamaan dalam
segala hal, tetapi jarang yang bisa melakukan. Sebagaimana syaiir dikatakan:
- Segala sesuatau, maunya tinggi yang di tuju
- Tapi jarang, hati tabah di emban orang
Ada dikatakan : "Keberanian ialah sabar sejenak."
Maka sebaiknya pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang
guru, dalam mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna
dipelajari, dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum
memahaminya benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah
kelain daerah kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini di langgar, dapat membuat urusan
jadi kacau balau, hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang
guru.
Sebaiknya
pula, pelajar selalu memegangi kesabaran hatinya dalam mengekang kehendak hawa
nafsunya. Seorang penyair berkata :
- Hawa nafsu, dialah hina
- Tiap jajahan nafsu, berarti kalahan si hina
Juga
berhati sabar dalam menghadapi cobaan dan bencana. Ada dikatakan : "Gudang
simpanan cita, terletak pada banyaknya bencana."
Di
syairkan untuk saya ada yang berpendapat bahwa syair ini dari gubahan Ali bin
Abu Tholib sebagai berikut:
- Tak bisa kau raih ilmu, tanpa memakai 6 senjata
- Kututurkan ini padamu, kan jelaslah semuanya.
- Cerdas, sabar dan loba, jangan lupa mengisi saku
- Sang guru mau membina, kau sanggup sepanjang waktu
1.
Memilih Teman
Tentang memilih teman, hendaklah memilih yang tekun, waro,
bertabiat jujur serta mudah memahami masalah. Menyingkiri orang pemalas,
penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah.
Syiir
dikatakan:
- Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu temannya.karena siapapun dia, mesti berwataq seperti temannya.
- Bila kawanya durhaka, singkirilah dia serta merta.bila bagus budinya, rangkullah dia, berbahagia!
Disyi'irkan
buatku :
- Jangan kau temani sipemalas, hindari segala halnya, banyak orang shaleh menjadi kandas, sebab rerusuh sandarannya
- Menjalar tolol kepada cendikia, amat cepat terlalu laksana api bara, ia padam di atas abu
Nabi
saw bersabda : Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan kesucian islam, hanya
kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.
Ada
dikatakan kata hikmah dalam bahasa persi :
- Teman yang durhaka, lebih berbisa daripada ular yang bahaya
Demi
Allah Yang Maha Tinggi, Nan Maha Suci
- Teman buruk, membawamu ke neraka jahim
Teman
bagus, mengajakmu ke sorga na'im
Ada
Disyi'irkan:
- Bilakau ingin mendapat ilmu dari ahlinya
Atau
ingin tahu yang gaib dan memberitakannya
- maka dari nama bumi, ambillah pelajaran tentang isinya
dan
dari oarang yang di temani, ibaratkanlah tentang dia
FASAL IV
MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU
·
Mengagungkan ilmu
Penting diketahui, Seorang pelajar
tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat,
selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati
keagungan gurunya.
Ada dikatakan : "Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya
karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau
mengagungkannya. "Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir
karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.
·
Mengagungkan Guru
Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang
guru. Ali ra berkata: "Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah
mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan
ataupun tetap menjadi hambanya."
Dalam
masalah ini saya kemukakan Syi'irnya:
- Keyakinanku tentang haq guru, hak paling hak adalah itu
Paling
wajib di pelihara, oleh muslim seluruhnya
demi
memulyakan, hadiah berhak di haturkan
seharga
dirham seribu, tuk mengajar huruf yang Satu
Memang
benar, orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan
agamamu, adalah bapak dalam kehidupan agamamu.
Guru
kita Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru kami berucap :
"bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka memelihara,
memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada kaum ahli agama yang
tengah dalam pengembaraan ilmiyahnya. Kalau toh ternyata bukan putranya yang
alim, maka cucunyalah nanti."
Termasuk
arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya,
memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam
darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar
menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.
Pada
pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya
dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab
orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhak kepada
Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati
putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya.
Di
sini Guru kita Syaikhul Islam Burhanuiddin Shahibul Hidayah pernah bercerita
bahwa ada seorang imam besar di Bochara, pada suatu ketika sedang asyiknya di
tenmgah majlis belajar ia sering berdiri lalu duduk kembali. Setelah ditanyai
kenapa demikian, lalu jawabnya : ada seorang putra guruku yang sedang main-main
dihalaman rumah dengan teman-temannya, bila saya melihatnya sayapun berdiri
demi menghormati guruku.
Qodli
Imam Fakhruddin Al-Arsyabandiy yang menjabat kepala para imam di marwa lagi
pula sangat di hormati sultan itu berkata : "Saya bisa menduduki derajat
ini, hanyalah berkah saya menghormati guruku. Saya menjadi tukang masak makanan
beliau, yaitu beliau Abi Yazid Ad-Dabbusiy, sedang kami tidak turut
memakannya."
Syaikhul
Imamil Ajall Syaikhul Aimmah Al-Khulwaniy, karena suatu peristiwa yang menimpa
dirinya, maka berpindah untuk beberapa lama, dari Bochara kesuatu pedesaan.
Semua muridnya berziarah kesana kecuali satu orang saja, yaitu syaikhul imam
Al-qadli Abu Bakar Az-Zarnujiy. Setelah suatu saat bisa bertemu, beliau
bertanya: "kenapa engkau tidak menjengukku? Jawabnya : "Maaf tuan,
saya sibuk merawat ibuku" beliau berkata: "Engkau dianugrahi panjang
usia, tetapi tidak mndapat anugrah buah manis belajar." Lalu kenyataanya
seperti itu, hingga sebagian banyak waktu Az-Zarnujiy digunakan tinggal di
pedesaan yang membuatnya kesulitan belajar.
Barang
siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit
kemamfaatannya.
- Sungguh, dokter dan guru
Tak
akan memberi nasehat, bila tak di hormat
- terimalah penyakitmu, bila kau acuh doktermu
dan
terimalah bodohmu, bila kau tentang sang guru
Suatu hikayat : Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim putranya
kepada Al-Ashma'iy agar diajar ilmu dan adab. Pada suatu hari, Khalifah melihat
Al-Ashma'iy berwudlu dan membasuh sendiri kakinya, sedang putra khalifah cukup
menuang air pada kaki tersebut. Maka, Khalifahpun menegur dan ujarnya :
"Putraku saya kirim kemari agar engkau ajar dan didik; tapi mengapa tidak
kau perintahkan agar satu tangannya menuang air dan tangan satunya lagi
membasuh kakimu?"
·
Memulyakan Kitab
Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu memulyakan kitab,
karena itu, sebaiknya pelajar jika mengambil kitabnya itu selalu dalam keadaan
suci. Hikayat, bahwa Syaikhul islam Syamsul Aimmah Al-Khulwaniy pernah berkata
: "Hanya saya dapati ilmu ilmuku ini adalah dengan mengagungkan. Sungguh,
saya mengambil kertas belajarku selalu dalam keadaan suci.
Syaikhul
Imam Syamsul Aimmah As-sarkhasiy pada suatu malam mengulang kembali
pelajaran-pelajarnnya yang terdahulu, kebetulan terkena sakit perut. Jadi
sering kentut. Untuk itu ia melakukan 17 kali berwudlu dalam satu malam
tersebut, karena mempertahankan supaya belajar dalam keadaan suci. Demikianlah
sebab ilmu itu cahaya, wudlupun cahaya. Dan cahaya ilmu akan semakin cemerlang
bila di barengi cahaya berwudlu.
Termasuk
memulykan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki kearah
kitab. Kitab tafsir letaknya diatas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh
sesuatu diatas kitab.
Guru
kita Burhanuddin pernah membawakan cerita dri seorang ulama yang mengtakan ada
seoranag ahli fikih meletakan botol tinta di atas kitab. Ulama itu sraya
berkata : "Tidak bermanfaat ilmumu.
Guru
kita Qodli Fakhrul Islam yang termasyur dengan Qodli Khan pernah berkata:
"Kalau yang demikian itu tidak dimaksud meremehkan, maka tidak mengapalah.
Namun lebih baiknya disingkiri saja."
Termasuk
pula arti mengagungkan, hendak menulis kitab sebaik mungkin. Jangan kabur,
jangan pula membuat catatan penyela/penjelas yang membuat tulisan kitab tidak
jelas lagi, kecuali terpaksa harus dibuat begitu. Abu hanifah pernah mengetahui
seorang yang tidak jelas tulisannya, lalu ujarnya: "Jangan kau bikin
tulisanmu tidak jelas, sedang kau kalau ada umur panjang akan hidup menyesal,
dan jika mati akan dimaki." Maksudnya, jika kau semakin tua dan matamua
rabun, akan menyesali perbuatanmua sendiri itu. Diceritakan dari Syaikhul Imam
Majduddin Ash-Shorhakiy pernah berkata: "Kami menyesal;I tulisan yang
tidak jelas, catatan kami yang pilih-pilih dan pengetahuan yang tidak kami
bandingkan dengan kitab lain."
Sebaiknya
format kitab itu persegi empat, sebagaimana format itu pulalah kitab-kitab Abu
Hanifah. Dengan format tersebut, akan lebih memudahkan jika dibawa, diletakkan
dan di muthalaah kembali.
Sebaiknya
pula jangan ada warna merah didalam kitab, karena hal itu perbuatan kaum
filsafat bukan ulama salaf. Lebih dari itu ada diantara guru-guru kita yang
tidak suka memakai kendaraan yang berwarna merah.
·
Menghormati Teman
Termasuk makna mengagungkan ilmu pula, yaitu menghormati
teman belajar dan guru pengajar. Bercumbu rayu itu tidak dibenarkan, selain
dalam menuntut ilmu. Malah sebaliknya di sini bercumbu rayu degnan guru dan
teman sebangku pelajarannya.
·
Sikap Selalu Hormat Dan Khidmah
Hendaknya penuntut ilmu memperhatikan segala ilmu dan hikmah
atas dasar selalu mengagungkan dan menghormati, sekalipun masalah yang itu-itu
saja telah ia dengar seribu kali. Adalah dikatakan : "Barang siapa yang
telah mengagungkannya setelah lebih dari 1000 kali tidak sebagaimana pada
pertama kalinya, ia tidak termasuk ahli ilmu."
·
Jangan Memilih Ilmu Sendiri
Hendaklah sang murid jangan menentukan pilihan sendiri
terhadap ilmu yang akan dipelajari. Hal itu dipersilahkan sang guru untuk
menentukannya, karena dialah yang telah berkali-kali melakukan percobaan serta
dia pula yang mengetahui ilmu yang sebaiknya diajarkan kepada seseorang dan
sesuai dengan tabiatnya.
Syaikhul Imam Agung Ustadz Burhanul Haq Waddin ra. Berkata:
"Para siswa dimasa dahulu dengan suka rela menyerahkan sepenuhnya
urusan-urusan belajar kepada gurunya, ternyata mereka peroleh sukses apa yang
di idamkan; tetapi sekarang pada menentukan pilihan sendiri, akhirnyapun gagal
cita-citanya dan tidak bisa mendapatkan ilmu dan fihq."
Hikayat orang, bahwa Muhammad bin Ismail Al-Bukhariy pada
mulanya adalah belajar shalat kepada Muhammad Ibnul Hasan. Lalu sang guru ini
memerintahkan kepadanya : "Pergilah belajar ilmu hadist! "setelah
mengetahui justru ilmu inilah yang lebih sesuai untuk Bukhariy. Akhirnya pun ia
belajar hadist hingga menjadi imam hadist paling terkemuka.
·
Jangan Duduk Terlalu Dekat Dengan
Guru
Diwaktu belajar, hendaklah jangan duduk terlalu mendekati
gurunya, selain bila terpaksa. Duduklah sejauh antar busur panah. Karena dengan
begitu, akan terlihat mengagungkan sang guru.
·
Menyingkiri Akhlak Tercela
Pelajar selalu memnjaga dirinya daripada akhlak-akhlak yang
tercela. Karena akhlak buruk itu ibarat anjing. Rasulullah saw bersabda:
"Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau
anjing". Padahal orang belajar itu dengan perantara malaikat. Dan terutama
yang disingkiri adalah sikap takabur dan sombong.
Syai'ir
dikatakan:
- ilmu itu musuh bagi penyombong diri
laksan
air bah, musuh dataran tinggi
- Diraih keagungan dengan kesungguhan
bukan semata dengan harta tumpukan
bisakah agung didapat? Dengan harta tanpa semangat?
- Banyak sahaya, menduduki tingkat merdeka
Banyak
orang merdeka, menduduki tingkat sahaya
FASAL V
SUNGGUH-SUNGGUH, KONTINUITAS
DAN CITA-CITA LUHUR
1.
Kesungguhan Hati
Selain itu semua, pelajar juga harus bersungguh hati dalam
belajar serta kontinu (terus-terusan). Seperti itu pula di tunjukkan firman
Allah: "Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami
tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami" (Surat 29, Al-Ankabut 69).
Ada dikatakan pula : "siapa sungguh-sungguh dalam
mencari sesuatu pastilah ketemu" "Brangsiapa mengetuk pintu
bertubi-tubi, pasti dapat memasuki". ada dikatakan lagi: "Sejauhmana
usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu"
Ada dikatakan : "Dalam mencapai kesuksesan mempelajari
ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga fihak. Yaitu guru, pelajar dan
wali murid jika masih ada."
Syi'ir
gubahan Asy-Syafi'iy dikemukan kepadaku oleh Al Ustadz Sadiduddin
Asy-Syairaziy:
- Dengan kesungguhan, hal yng jauh jadi berada pintu terkuncipun jadi terbuka
- Titah Allah yang paling berhaq bilang sengsara, yang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa
- Disini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila sipandai hidup sengsara, sedang sibodoh cukup berharta
- Tapi yang hidup akalny, tidak di beri harta dan benda, keduanya pada berpisah, satu disini satu disana
Syi'ir
gubahan lain Asy-Syafi'iy dikemukan padaku:
- Kau idamkan menjadi paqih penganlisa, padahal tidak mu sengsara, macam-macam sajalah penyakit gila
- Tidak bakal engkau memboyong harta, tanpa menanggung masakat derita, ilmupun begitu pula
Abut
Thayib berkata:
- Tak kulihat aib orang sebagai cela, bagaikan orang kuasa yang tak mau memenuhi apa mestinya.
Pelajar
pula harus sanggup tidak tidur bermalam-malam sebagaimana
kata
penyair:
- Seukur kesulitan, ukuran keluhuran, siapa ingin luhur, jangan tidur semalaman
- Kau ingin mulya, tapi tidur di malam hari,dengan menyelam laut, permata kan didapati
- Keluhuran derajat, dengan hikmah yang tinggi, keluhuran seseorang, dengan berjaga di malam hari
- Oh tuhan, kubuang tidurku di malam hari, demi ridhaMu Ya Maulal Mawali
- Siapa tanpa mau sengsara inginkan keluhuran, mengulur umur yang takkan kedapatan
- Tolonglah saya agar mendapat ilmu, sampaikan saya dikemulyaan sisiMu
- Jadikanlah malam, unta tunggangann buat kau dapat, yang kau citakan
Pengarang
kitab berkata : I ada Nadzam yang sema'na dengan syi'ir-syi'ir di atas, yaitu:
- Barangsiapa ingin semua maksudnya tercapai, jadikanlah malam, tunggangan untuk mencpai
- Kurangilkah makan, agar kau mampu berjaga, bila kau idamkan, mendapat sempurna
Ada
dikatakan : "Barang siapa tidak tidur dimalam hari, hatinya bahagia di
siang hari."
2.
kontinuitas dan mengulang pelajaran.
Tidak boleh tidak, pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan
mengulangi pelajaran yang telah lewat. Hal itu dilakukan pada awal waktu malam,
akhir waktu malam. Sebab waktu diantara maghrib dan isya, demikian pula waktu
sahur puasa adalah membawa berkah.
-
hai pelajaran, patuhilah waro'
singkiri tidur, dari perut kenyang
- langgengkan pelajar, jangan kau rusak
dengan
belajar, ilmu tegak dan makin menanjak
Hendaknya
pula mengambil kesempatan masa muda dan awal remajanya. Syi'ir mengemukakan:
- Sebesar sengsara, itulah kesuksesan citamu.
Siapa
menuju citz, jangan tidur dimalam berlalu
- Sempatkan dirimu, dimasa muda
Dan
ingat, masa itu tak lama berada
3.
Menyantuni Diri
Jangan membuat dirinya sendiri bersusah payah, hingga jadi
lemah dan tak mampu berbuat apa-apa. Ia harus selalu menyantuni dirinya
sendiri. Kesantunan itu mendasari kesuksesan segala hal. Rasulullah saw.
Bersabda: "Ingatlah, bahwa islam itu agama yang kokoh. Santunilah dirimu
dalam menunaikan tugas agama, jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu
kepada Allah. Karena orang yang telah hilang kekuatannya itu, tiada bisa
memutus bumi dan tiada pula kendaraan tunggangannya."
Nabi
saw bersabda : "dirimu itu kendaraanmu, maka santunilah ia."
4.
Cita-cita Luhur
Pelajar harus luhur cita-citanya dalam berilmu. Manusia itu
akan terbang dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua
sayapnya.
Abuth-Thoyyib
berucap:
- Seberapa kadar ahli cita, si cita-cita kan didapati
Seberapa
kadar orang mulya, sikemulyaan kan di temui
- Barang kecil tampaknya besar, dimata orang bercita kecil Barang besar dimata oarang bercita besar, tampaknya kecil
Pangkal
kesuksesan adalah kesungguhan dan himmah yang luhur. Barang siapa berhimmah
menghapalkan seluruh kitab Muhammad Ibnul Hasan, lagi pula disertai usaha yang
sungguh-sungguh dan tak kenal berhenti, maka menurut ukuran lahir pasti akan
bisa menghafal sebagian besar atau separohnya.
Demikian
pula sebaliknya, bila ita-citanya tinggi tapi tidak ada kesungguhan berusaha,
atau sungguh-sungguh tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka hanya sedikit pula
ilmu yang berhasil didapatkannya.
Di
dalam kitab Makarimul Akhlak, Syaikhul Imam Al-Ustadz Ridladdin mengemukakan,
bahwa kaisar Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan dunia timur dan barat
bermusyawarah dengan para Hukama' dan katanya : Bagaimana saya harus pergi
untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia ini hanya sedikit
nilainya, fana dan hina, yang berarti ini bukan ita-cita luhur? Hukama menjawab
: "Pergilah Tuan, demi mendapat dunia dan akherat." Kaisar menyahut:
"Inilah yang baik."
Rasulullah
saw. Bersabda : "Sungguh, Allah senang perkara-perkara yang luhur tetapi
benci yang hina.'
Syi'ir
dikatakan;
- Jangan tergesa menangani perkaramu, senantiasalah begitu!
Takada
yang bisa meluruskan tongkatmu, seperti yang meluruskannya selalu.
Ada
dikatakan : Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf : " Hati dan akalmu
tertutup. Tapi engkau bisa keluar dari belenggu itu dengan cara
terus-terusanbelajar. Jauhilah malas-malas yang jahat dan petaka itu."
Syaikh
Abu Nashr Ash-Shoffar Al-Anshariy berkata:
- Diriku oh diriku, janganlah kau bermalas-malasan
Untuk
berbakti, adil, berbuat bagus perlahan-lahan
- Setiap yang beramal kebajikan, untung kan didapat
Tapi
yang bermalasan, tertimpa balak dan keparat.
Ada
syi'ir gubahanku yang semakna itu:
- Tinggalkanlah oh diriku, bermalasan dan menunda urusan
Kalau
tidak, letakkan saja aku, dijurang kehinaan
- Tak kulihat, orang pemals mendapat imbal
Selain
sesal, dan cita-cita menjadi gagal.
Syi'ir
diucapkan:
- Bertumpuk malu, lemah dan sesal
Kebanyakan
dari akibat orang malas beramal
- Buanglah segan untuk membahas yang belum jelas
Segala
yang kau tahu, dan yang masih ragu akibat malas
Kata-kata
mutiara di ucapkan : Sikap malas adalah timbul dari akibat jarang menghayati
kemulyaan dan keutamaan ilmu."
5.
Usah sekuat Tenaga
Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih
guna mencapai kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati
keutamaan ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana, seperti apa yang
dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:
- Kami rela, bagian Allah untuk kami, Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami
- Dalam waktu singkat, harta jadi musna, Namun ilmu, abaditak akan sirna
Ilmu
yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya
walaupun ia sudah mati. Dan karena begitu, ia dikatakan selalu hidup abadi.
Syaikhul Ajall Al-Hasan bin Ali Al-Marghibaniy membawakan syi'ir buat kami:
- Kaum bodoh, telah mati sebelum mati Orang alim, tetap hidup walaupun mati
Demikian
pula Syaikhul Islam Burhanuddin :
- Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya Belum dikubur, badanya telah jadi pusara
- Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati Bila bangkit kembali, tak kan bisa bangkit kembali
Lain
lagi :
- Orang berilmu, hidup kekal setelah mati Ruas tubuhnya telah hancur lebur di timbun duli
- Orang bodoh, jalan di bumi, mati hukumnya Dikira hidup, nyatanya mati
Syakhul
Islam Burhanuddin membawakan Syi'ir buat kita :
- Kalau sang ilmu, tingkat tertinggi tuk tempat singgah Kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah
- Orang berilmu, namanya harum berlipat tinggi Orang bodoh, begitu mati tertimbun duli
- Mendaki tinggi, kepuncak ilmu, mustahil bisa Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda
- Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu Cuma ringkasan, kemulyaan ilmu yang aku tahu
- Ia cahaya, penerang buta, terang benderang tapi si bodoh, sepanjang masa gelap menantang
- Dia puncak, menjulang tinggi, pelindung siapa berlindung Makanya aman, dari segala aral melintang
- juru penyelamat, dikala insan terjerat tipu harapan manis, kala sang nyawa diambang pintu
- Ia sarana, guna menolong teman durhaka Yang jalan bengkok, akibat bobrok, lapis neraka
- Yang bertujuan ilmu, berarti telah menuju "segala" Yang dapat ilmu, artinya telah dapatsegala
- Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat mulia Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa
- Bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya Pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah berharga
- mendaki tinggi kepuncak ilmu mustahil bisa bila maksudnya bagai komandan pasukan kuda
- Dengarkan dulu sedikit saja dikte buatmu Cuma ringkasan kemulyaan ilmu yang aku tahu
- Ia cahaya penerang buta terang benderang Tapi si bodoh sepanjang masa gelap menantang
- Dia puncak menjelang tinggi pelindung siapa berlindung Makanya aman dari segala aral melintang
- Juru penyelamat dikala insan terjerat tipu Harapan manis kala sang nyawa diambang pintu
- Ia sarana guna menolong teman durhaka Yang jalan bengkok akibat bobrok lapis neraka
- Yang bertujuan ilmu berarti telah menuju segala Yang dapat ilmu artinya telah dapat segala
- Wahai kaum berakal ilmu itu pangkat mulia Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa
- bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah terharga
Syi'ir
gubahan sebagian para ulama' dibawakan buatku:
- Jikalau karena ilmu, orang alim menjadi mulya Ilmu fiqh membawa mulya kan lebih bisa
- Banyak semerbak yang dengan misik tidak menandingi Banyak penerbang yang tak seperti raja wali
Dibawakan
lagi untukku :
- Fiqh itu ilmu termahal,engkaulah yang memungut Siapa belajar, tak kan habis hikmah di dapat
- Curahkan dirimu, mempelajari yang belum tahu Awal bahagia, akhirpun bahagia, itulah ilmu
Bagi orang yang berakal, telah cukuplah merasa terpanggil
Menuju kesuksesan berilmu oleh sebagaimana kelezatan-kelezatan ilmu, fiqh dan
kebahagian yang timbul bila sedang faham terhadap suatu masalah.
6.
Sebab Kemalasan
Sikap malas itu bisa timbul akibat dari lendir dahak atau
badan berminyak yang disebabkan orang terlalu banyak makan
Adapun
cara mengurangi dahak itu sendiri adalah bisa dilakukan dengan cara mengurangi
makan. Ada dikatakan: "tujuh puluh orang Nabi sependapat bahwa sering lupa
itu akibat dahak terlalu banyak, dahak terlalu banyak karena minum terlalu
banyak, dan biasa adanya minum terlalu banyak itu karena makan yang terlalu
banyak pula."
Makan
roti kering dn menelan buah anggur kering dapat juga menghilangkan dahak. Namun
jangan terlalu banyak, agar tidak mengakibatkan ingin minum, yang kesudahannya
memperbanyak lendir dahak pula.
Bersiwak
juga dapat menghilangkan dahak pula. Disamping memperlancar hafalan dan
kefasihan lisan. Demikianlah, perbuatan itu termasuk sunah Nabi yang bisa
memperbesar pahala ibadah sahlat dan membaca Al-Qur'an.
Muntah
juga dapat mengurangi lendir dahak, dan mengurangi perminyakan badan (yang
disebabkan makan terlalu banyak).
7.
Cara Mengurangi Makan
Cara mengurangi makan bisa dilakukan dengan cara menghayati
faedah dan mamfaat yang timbul dari makan sedikit. Antara lain adalah badan
sehat, lebih terjaga dari yang haram dan berarti pula ikut memikirkan nasib
orang lain. Dalam hal ini ada syi'ir menyebutkan :
- celaka, celaka dan celaka karena makan, manusia jadi celaka
Hadist
Nabi Saw. Menyebutkan : "tiga orang yang di benci Allah bukan karena ia
berdosa, yaitu orang pelahap makan, orang kikir dan orang sombong.
Bisa
pula dengan cara menghayati madlarat yang timbul dari akibat makan terlalu
banyak, antara lain sakitdan tolol. Ada dikatakan: "Perut kenyang,
kecerdasan hilang". Ada dikatakan ucapan galinus sebagai berikut:
"Semua buah delima bermamfaat, semua ikan laut madlarat. Tetapi masih
lebih bagus makan ikan laut sedikit, daripada delima tapi banyak, karena bisa
menghabiskan harta. Makan lagi setelah perut kenyang hanyalah membawa madlarat,
dan mendatangkan siksa kelak diakherat. Orang terlalu banyak makan itu dibenci
setiap orang."
Caranya
lagi untuk mengurangi makan, adalah dengan makanan yang berlemak atau berzat
pemuak. Makan mana yang lebih lembut dan disukai terlebih dahulu. Dan jangan
bersama-sama orang yang sedang lapar sekali selain bila hal itu justru harus
dilakukan karena bertujuan bak. Misalnya agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat
atau perbuatan-perbuatan lain yang berat, bolehlah dilakukan.
FASAL VI
PERMULAN BELAJAR UKURAN BELAJAR
DAN TATA TERTIBNYA
- Hari Mulai Belajar
Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin memulai belajar tepat
Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah hadist sebagai
dasarnya, dan ujarnya: Rasulullah saw bersabda: " tiada lain segala
sesuatu yang di mulai pada hari rabu, kecuali akan menjadi sempurna."
Dan
seperti ini pula yang dikerjakan Abu Hanifah. Mengenai hadist di atas, beliau
juga diriwayatkan dari guru beliau Syaikhul Imam Qawamuddin Ahmad bin Abdur
Rasyid.
Saya
mendengar dari orang kepercayaanku, bahwa Syekh Abu Yusuf Al-Hamdani juga
menepatkan semua perbuatan bagus pada hari rabu.
Demikianlah,
karena pada hari rabu itu Allah menciptakan cahaya, dan hari itu pyla merupakan
hari sial bagi orang kafir yang berarti bagi orang mukmin hari yang berkah.
- Panjang Pendeknya Pelajaran
Mengenai ukuran seberapa panjang panjang yang baru dikaji,
menurut keterangan Abu Hanifah adalah bahwa Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu
Bakar Az-Zanji berkata: guru-guru kami berkata: "sebaiknya bagi oarang
yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu
dihapalkan dengan faham, setelah diajarkannya dua kali berulang. Kemudian untuk
setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga setelah banyak dan panjang
pun masih bisa menghapal dengan paham pula setelah diulanga dua kali.
Demikianlah lambat laun setapak demi setapak. Apabila pelajaran pertama yang
dikaji itu terlalu panjang sehingga para pelajar memerlukan diulanganya 10
kali, maka untuk seterusnya sampai yang terakhirpun begitu. Karena hal itu
menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan kecuali dengan susah payah."
Ada dikatakan: "pelajaran baru
satu huruf, pengulangannya seribu kali."
- Tingkat Pelajaran Yang Di Dahulukan
Sebaiknya dimulai dengan pelajaran-pelajaran yang dengan
mudah telah bisa di fahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili
berkata; "Menurut saya, yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang
telah dikemukakan oleh para guru kita. Yaitu untuk murid yang baru, mereka
pilihkan kitab-kitab yang ringkas/kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah
di fahami dan di hapal, serta tidak membosankan lagi pula banyak terperaktekan.
- Membuat Catatan
Sebaiknya sang murid membuat catatan sendiri mengenai
pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami hafalannya, untuk kemudian sering
diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan bermanfaat sekali.
Jangan
sampai menulis apa saja yang ia sendiri tidak tahu maksudnya, karena hal ini
akan menumpulkan otak dan waktupun hilang dengan sia-sia belaka.
- Usaha Memahami Pelajaran
Pelajar hendaknya mencurahkan kemampuannya dalam memahami
pelajaran dari sang guru, atau boleh juga dengan cara diangan-angan sendiri, di
fikir-fikir dan sering diulang-ulang sendiri. Karena bila pelajaran yang baru
itu hanya sedikit dan sering diulang-ulang sendiri, akhirnyapun dapat
dimengerti. Orang berkata : "Hafal dua huruf lebih bagus daripada
mendengarkan saja dua batas pelajaran. Dan memahami dua huruf lebih baik
daripada menghapal dua batas pelajaran. Apabila seseorang telah pernah satu
atau dua kali mengabaikan dan tidak mau berusaha, maka menjadi terbisakan, dan
menjadi tidak bisa memahami kalimat yang tidak panjang sekalipun.
- Berdo'a
Hendaknya pula, dengan sungguh-sungguh memanjatkan do'a
kepada Allah dan meratap serta meronta. Allah pasti mengabulkan do'a yang di
mohonkan, dan tidak mengabaikan orang yang mengharapkan.
Sya'ir
Imlak Al-Qadli Al-Khalil Asy-Syajarzi dibawakan kepada kami oleh guru kami
syaikh Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin ismail As-Shaffar, sebagai berikut :
- Abdilah ilmu, bagaikan anda seorang abdi Pelajari selalu, dengan berbuat sopan terpuji
- yang telah kau hafal, ulangi lagi berkali-kali lalu tambatkan dengan temali kuat sekali
- Lalu catatlah, agar kau bisa mengulangi lagi Dan selamanya, ku bisa mempelajari
- Jikalau engkau, telah percaya tak kan lupa Ilmu yang baru, sesudah itu masuki segera
- Mengulang-ulang, ilmu yang dulu, jangan terlalai Dan bersungguhan, agar yang ini, kan menambahi
- Percakapilah mereka, agar ilmumu hidup selalu Jangan menjauh, dari siap berakal maju
- Bila ilmu, kau sembunyikan jadi membeku Kau kan kenal, jadi si bodoh yang tolol dungu
- Api neraka kan membelenggumu nanti kiamat Siksa yang pedihpun menimpamu menjilat-jilat
- Mudzakarah Munadharah Dan Mutharahah
Seorang pelajar seharusnya melakukan Mudzakarah (forum
saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu pandangan) dan
mutharahah (diskusi). Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan, kalem dan
penghayatan serta menyingkiri hal-hal yang berakibat negatif. Munadharah dan
mudzakarah adalah cara dalam melakukan musyawarah, sedang permusyawaratan itu
sendiri dimaksudkan guna mencari kebenaran. Karena itu, harus dilakukan dengan
penghayatan, kalem dan penuh keinsyafan. Dan tidak akan berhasil, bila
dilaksanakan dengan cara kekerasan dan berlatar belakang yang tidak baik.
Apabila
di dalam pembahasan itu dimaksudkan untuk sekedar mengobarkan perang lidah,
maka tidak diperbolehkan menurut agama. Yang diperbolehkan adalah dalam rangka
mencari kebenaran. Bicara berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak
diperkenankan, selama musuh bicaranya tidak sekedar mencari kemenangan dan
masih dalam mencari kebenaran. Bila kepada Muhammad bin Yahya diajukan suatu
kemuskilan yang beliau sendiri belum menemukan pemecahannya, maka ia katakan :
"pertanyaan anda saya catat dahulu untuk kucari pemecahannya. Diatas orang
berilmu, masih ada yang lebih banyak ilmunya."
Faedah
mutharahah dan mudzakarah itu jelas lebih besar daripada sekedar mengulang
pelajaran sendirian, sebab disamping berarti mengulang pelajaran, juga menambah
pengetahuan yang baru. Ada dikatakan : "Sesaat mutharahah dilakukan, lebih
bagus mengulang pelajaran sebulan. "Sudah tentu harus dilakukan dengan
orang yang insaf dan bertabiat jujur. Awas jangan mudzakarah dengan orang yang
sekedar mencari menang dalam pembicaraan semata, lagi pula bertabiat tidak
jujur. Sebab tabiat itu suka merampas, akhlak mudah menjalar sedang perkumpulan
pengaruhnya besar.
Syi'ir
yang dibawakan oleh Khalil bin ahmad di atas, telah banyak membawa petunjuk.
Ada dikatakan :
·
Persyaratan
ilmu bagi pengabdinya
·
Menjadikan
seluruh manusia, agar mengabdi kepadanya
- Menggali Ilmu
Pelajar hendaknya membiasakan diri sepanjang waktu untuk
mengangan-angan dan memikirkan. Karena itu, orang berkata :
"angan-anganlah, pasti akan kau temukan."
Tidak bisa tidak, agar omongan tepat itu harus terlebih
dahulu di angan-angan sebelum berbicara. Ucapan adalah laksana anak panah,
dimana tepat pada sasaran bila dibidikan terlebih dahulu dengan
mengangan-angan. Dalam Ushul Fiqh ada dikatakan bahwa mengangan-angan adalah
dasar yang amat penting. Maksudnya, hendaklah ucapan ahli fiqh yang teliti itu
terlebih dahulu harus diangan-angan. Ada diaktakan : "Modal akal ialah
ucapan yang tidak sembarangan serta diangan-angan terlebih dahulu." Lain
orang berkata :
- Pesan untukmu, tata bicara ada lima perkara Jika kau taat pada pemesan yang suka rela
- jangan sampai terlupa apa sebabnya, kapan waktunya, bagaimana caranya, berapa panjangnya dimana tempatnya itulah semua.
Seluruh
waktunya dan dalam situasi bagaimanapun, pelajar hendaknya mengambil pelajaran
dari siapapun. Rasulullah saw bersabda: "Hikmah itu barang hilangnya orang
mukmin dimana asal ia temui supaya diambil juga." Ada dikatakan:
"Ambillah yang jernih tinggalkanlah yang keruh." Saya mendengar
ucapan Syaikhul Imam Ustadz Fakhrudin Al-Kasyani : "Adalah jariyah Abu
Yusuf menjadi amanat buat Muhammad, lalu kepada Muhammad bertanya: Adakah
sekarang saudari masih hafal sedikit tentang fiqh dari Abu Yusuf? Jawabnya :
ah, tidak tuan, hanya saya ketahui ia sering mengulang-ulang ilmunya dan pernah
berkata: "Saham daur itu gugur tak dapat bagian. "Dengan itu Muhammad
lalu menjadi hafal dan yang tadinya masalah saham daur terasa sulit bagi
muhammad, sekarang sudah terpecahkan. Akhirnya tahulah bahwa belajar itu bisa
dilaksanakan dari siapa saja."
Dikala
kepada Abu Yusuf ditanyakan: "Dengan apakah tuan memperoleh ilmu? beliau
menjawab: "Saya tidak merasa malu belajar dan tidak kikir mengajar".
Ada ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra : "dengan apakah tuan mendapat
ilmu?" beliau menjawab : "Dengan lisan banyak bertanya dan hati
selalu berpikir."
Adanya
pelajar digelari dengan "Ma Taqulu" (Bagaimana keteranganmu) sebab
pada masa dulu mereka amat terbiasa untuk mengucapakan "Bagaimana
keterangan anda dalam masalah ini?"
Hanya
dengan banyak mutharahah dan mudzakarah di kedainyalah, Abu Hanifah pedagang
kain itu menjadi alim fiqh. Melihat kenyataan tersebut, kita bisa tahu bahwa
menuntut ilmu dan fiqh itu bisa pula dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari
uang. Abu Hafsh Al-Kabir sendiri bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannya
sendiri. Karena itu, apabila seorang pelajar harus juga mencarikan nafkah
keluarga dan segenap tanggungannya, bisalah kiranya di tengah-tengah keasyikan
bekerjanya itu sambil mempelajari sendiri pelajarannya dengan semangat dan
segiat mungkin.
- Pembiayaan Untuk Ilmu
Orang yang kebetulan sehat badan dan pikirannya, tiada lagi
alasan baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh sebab tidak ada lagi yang lebih
melarat daripada Abu Yusuf, tapi toh tidak pernah melupakan pelajarannya.
Apabila seseorang kebetulan kaya raya, alangkah bagusnya
bila harta yang halal itu di miliki orang shaleh. Ada ditanyakan kepada seorang
yang alim "dengan apa tuan mendapatkan ilmu?" lalu menjawabnya:
"Dengan ayahku yang kaya. Dengan kekayaan itu, beliau berbakti kepada ahli
ilmu dan ahli keutamaan". Perbuatan seperti ini, berarti mensyukuri nikmat
akal dan ilmu, yang hal itu menyebabkan bertambahnya ilmu. ada dikatakan orang,
bahwa Abu Hanifah berucap: "Hanya saja kudapatkan ilmu dengan Bersyukur
dan Hamdallah. Tiap-tiap berhasil kufahami fiqh dan hikmah selalu saja
kuucapkan Hamdalah. Dengan cara itu, jadi berkembanglah ilmuku."
- Bersyukur
Demikianlah, pelajar harus menyatakan syukurnya dengan
lisan, hati, badan dan juga hartanya. Mengetahui/menyadari bahwa kefahaman,
ilmu dan taufik itu semuanya datang dari hadirat Allah Swt. Memohon hidayahnya
dengan berdo'a dan meronta, karena hanya Dialah yang memberikan hidayah kepada
siapa saja yang memohon.
Akhlul Haq yaitu Ahli Sunah Wal Jama'ah selalu mencari
kebenaran dari Allah yang maha benar, petunjuk, penerang yang memelihara, Maka
Allahpun menganugrahi mereka hidayah dan membimbing dari jalan yang sesat. Lain
halnya dengan ahli sesat, dimana ia membanggakan pendapat dan akal sendiri,
mereka mencari kebenaran berdasar akal semata, yaitu suatu makhluk yang lemah.
Merekapun lemah dan terhalangi dari kebenaran, serta sesat yang menyesatkan,
kerena akal itu tak ubahnya seperti pandangan mata yang tidak mampu mencari
segala yang ada secara menyeluruh.
Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa mengetahui
dirinya sendiri, maka dia mengetahui Tuhannya. "Artinya, siapa tahu
kelemahan dirinya, maka akan tahulah kebesaran kekuasaan Allah. Karena orang
itu jangan berpegang dengan diri dan akal sendiri, tapi haruslah bertawakal
kepada Allah, dan kepadaNya pula ia mencari kebenaran. Barang siapa bertawakal
kepada Allah, maka akan dicukupinya dan di bimbing ke jalan yang lurus.
- Pengorbanan Harta Demi Ilmu
Orang kaya jangan kikir, dan hendaklah mohon perlindungan
kepada Allah agar tidak kikir. Nabi saw bersabda: "Manakah penyakit yang
lebih keras daripada kikir? Bapaknya Syaikhul Imam Agung Syamsul Aimmah
Al-Halwaniy adalah seorang fakir penjual kue halwak. Bapak ini menghadiahkan
beberapa biji tersebut kepada fuqaha, dan katanya: "Kumohon tuan
mendo'akan putraku." Demikianlah, sehingga atas berkah dermawan, I'tikad
baik, suka rela dan merontanya itu, sang putra mendapat kesuksesan
cita-citanya.
Dengan harta yang dimiliki, hendaklah suka membeli kitab dan
mengaji menulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan
bertafaqquh.
Muhammad
Ibnul Hasan adalah seorang yang hartawan besar yang mempunyai 300 orang pegawai
yang mengurusi kekayaannya, toh suka membelanjakan sekalian kekayaannya demi
ilmu, sehingga pakaiannya sendiripun tiada yang bagus. Dalam pada itu, Abu
Yusuf menghaturkan sepotong pakaian yang masih bagus untuknya, namun tidak
berkenan menerimanya dan malah ujarnya: Untukmulah harta dunia, dan untukku
harta akherat saja. "Yang demikian itu sekalipun menerima hadiah sendiri
hukumnya sunnah, barangkali memandangnya dapat mencemarkan dirinya. Dalam hal
ini Rasulullah saw bersabda: "Orang yang mencemarkan dirinya sendiri,
tidaklah termasuk ke dalam golongan kaum muslimin."
Suatu hikayat, bahwa fakrul Islam Al-Arsyabandiy makan
kulit-kulit semangka yang dibuang orang, dimana ia kumpulkan sendiri dari
tempat-tempat yang sepi. Pada suatu ketika ada seorang jariyah yang
mengetahuinya, lalu melaporkan hal itu kepada tuannya. Maka setelah disediakan
jamuan makan, Fakhrul Islampun dimohon kehadirannya. Namun demi menjaga dirinya
agar tidak tercemar, beliau tidak berkenan menghadiri jamuan tersebut.
- Loba Dan Tama'
Demikianlah, sehingga para pelajar jangan sampai tama'
mengharapkan harta orang lain. Ia hendaknya memiliki Himmah yang luhur. Nabi
saw bersabda : "Hindarilah tama' karena dengan tama' berarti kemiskinan
telah menjadi". Tapi tuan juga jangan kikir, sukalah membelanjakan
hartanya untuk keperluan diri sendiri dan kepentingan orang lain.
- Pelaksanaan Pelajaran Keterampilan
Nabi saw bersabda : "Karena khawatir melarat, semua
manusia telah jadi melarat'. Pelajar-pelajar dimasa dulu sebelum mempelajari
ilmu agama, lebih dahulu belajar bekerja, agar dengan begitu tidak tama'
mengharap harta orang lain. Dalam kata hikmah disebutkan: "Barangsiapa
mencukupi diri dengan harta orang lain, berarti ia melarat."
Jika
orang alim bersifat tama', hilanglah nilai ilmunya dan ucapannya tidak bisa
dibenarkan lagi. Karena itu, Rasulullah saw pembawa syareat berlindung diri
dari sabdanya: "Aku berlindung diri kepada Allah dari sifat tama' yang
membawa kepada tabiat jahat."
- Lillahi Ta'ala
Tumpuan harapan sang pelajar hanyalah kepada Allah, takutpun
hanya kepadaNya. Sikap tersebut bisa di ukur dengan melampaui batas-batas agama
atau tidak. Barangsiapa takut kepada sesama makhluk lalu ia mendurhakai Allah,
maka berarti telah takut kepada selain Allah. Tapi sebaliknya bila ia telah
takut kepada makhluk namun telah taat kepada Allah dan berjalan pada batas-batas
syareat, maka tidak bisa dianggap telah takut kepada selain Allah. Ia masih
dinilai takut kepada Allah. Begitu pula dalam masalah harapan seseorang.
- Mengukur Kemampuan Diri Sendiri
Hendaknya (yang lebih efisien dan efektif untuk menghafalkan
pelajaran yaitu) : Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali hari
kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali dan hari sebelumnya lagi 1kali.
- Metoda Menghafal
Suatu cara yang efisien dan efektif untuk menghafalkan
pelajaran yaitu : Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali, hari
kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali, dan hari sebelumnya lagi satu
kali.
Hendaknya dalam mengulangi pelajarannya itu jangan
pelan-pelan. Belajar lebih bagus bersuara kuat dengan penuh semangat. Namun jangan
terlalu keras, dan jangan pula hingga menyusahkan dirinya yang menyebabkan
tidak bisa belajar lagi. Segala sesuatu yang terbaik adalah yang cukupan. Suatu
hikayat menceritakan, bahwa suatu saat Abu Yusuf sedang mengikuti mudzakarah
fiqh dengan suara kuat dan penuh semangat. Lalu dengan rasa heran, iparnya
berkata: "saya tahu Abu Yusuf telah lima hari kelaparan, tapi ia tetap
munadharah dengan suara keras dan penuh semangat.
- Panik Dan Bingung
Seyogyanya pelajar tidak panik dan kebingungan, sebab itu semua
adalah afat. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin berkata: "Sesungguhnya
saya dapat melebihi teman-temanku adalah karana selama belajar tidak pernah
merasa panik, kendor dan kacau". Hikayat menceritakan, bahwa Syaikh
Al-Asbijabiy di masa belajarnya mengalami masa jumud selama 12 tahun lantaran
pergantian Raja. Iapun pergi keluar negeri bersama seorang sahabatnya guna
mengadakan munadharah setiap hari di sana. Demikian munadharah dilakukan selama
12 tahun. Akhirnyapun sahabat tadi menjadi Syaikhul Islam beraliran madzhab
Syafi'I ikutan kaum syafi'iyyin.
R. Sebuah Methode Belajar.
Guru kami Syaikh Qadli Imam Fakhrul Islam Qadlikhan berkata:
Bagi pelajar Fiqh, agar selalu hafal di luar kepala sebuah kitab fiqh. Dengan
begitu, akan lebih memudahkan dalam mnghafalkan ilmu fiqh yang baru yang di
dengarkan.
FASAL VII
BERTAWAKAL
A. Pengaruh Rizki
Pelajar
harus bertawakal dalam menuntut ilmu. Jangan goncang karena masalah rizki, dan
hatinya pun jangan terbawa kesana. Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah Ibnul
Hasan Az-Zubaidiy sahabat Rasulullah saw : "Barangsiapa mempelajari agama
Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan
yang tidak di kira sebelumnya."
Karena
orang yang hatinya telah terpengaruh urusan rizki baik makanan atau pakaian,
maka jarang sekali yang dapat menghapus pengaruh tersebut untuk mencapai budi
luhur dan perkara-perkara yang mulya. Syi'ir menyebutkan :
- Tinggalkan kemulyaan, jangan kau mencari Duduklah dengan tenang, kau akan disuapi dan dipakaiani
Ada seorang lelaki berkata kepada Manshur Al-Hallaj:
"Berilah aku wasiat!" iapun berkata: "Wasiatku adalah hawa
nafsumu. Kalau tidak kau tundukkan, engkaulah yang dikalahkan."
Bagi
setiap orang, hendaknya membuat kesibukan dirinya dengan berbuat kebaikan, dan
jangan terpengaruh oleh bujukan hawa nafsunya.
B. Pengaruh Urusan Duniawi
Bagi
yang mengunakan akal, hendaknya jangan tergelisahkan oleh urusan dunia, karena
merasa gelisah dan sedih di sini tidak akan bisa mengelakan musibah, bergunapun
tidak. Malahan akan membahayakan hati, akal dan badan serta dapat merusakan
perbuatan-perbuatan yang baik. Tapi yang harus diperhatikan adalah
urusan-urusan akhirat, sebab hanya urusan inilah yang akan membawa manfaat.
Mengenai
sabda Nabi saw. "Sesungguhnya ada diantara dosa yang tidak akan bisa
dilebur kecuali dengan cara memperhatikan ma'isyah," maksudnya adalah
"perhatian" yang dalam batas-batas tidak merusak amal kebaikan dan
tidak mempengaruhi konsentrasi dan khusu, sewaktu shalat. Perhatian dan maksud
dalam batas-batas tersebut, adalah termasuk kebagusan sendiri.
Seorang
pelajar tidak boleh tidak dengan sekuat tenaga yang ada menyedikitkan kesibukan
duniawinya. Dan karena itulah, maka banyak pelajar-pelajar yang lebih suka
belajar di rantau orang
C. Hidup Dengan Prihatin
Juga
harus sanggup hidup susah dan sulit di waktu kepergiannya menuntut ilmu.
Sebagaimana Nabi Musa as. Waktu pergi belajar pernah berkata :
"Benar-benar kuhadapi kesulitan dalam kelanaku ini" padahal selain
kepergiannya tersebut tiada pernah ia katakan yang seperti itu. Hendaknya pula
menyadari bahwa perjalanan menuntut itu tidak akan lepas dari kesusahan. Yang
demikian itu, karena belajar adalah salah satu perbuatan yang menurut sebagian
besar ulama lebih mulya dari pada berperang. Besar kecil pahala adalah
berbanding seberapa besar letih dan kesusahan dalam usahanya.
Siapa
bersabar dalam menghadapi segala kesulitan di atas, maka akan mendapat
kelezatan ilmu yang melibihi segala kelezatan yang ada di dunia. Hal ini
terbukti dengan ucapan Muhammad Ibnul Hasan setelah tidak tidur bermalam-malam
lalu terpecahkan segala kesulitan yang dihadapinya, sebagai berikut:
"dimanakah letak kelezatan putra-putra raja, bila dibandingkan dengan
kelezatan yang saya alami kali ini."
D. Menggunakan Seluruh Waktu Buat Ilmu
Hendaknya
pula pelajar tidak terlena dengan segala apapun selain ilmu pengetahuan, dan
tidak berpaling dari fiqh. Muhammad berkata: "Sesungguhnya perbuatan
seperti ini, adalah dilakukan sejak masih di buaian hingga masuk liang kubur.
Barangsiapa meninggalkan ilmu kami ini sesaat saja, akan habislah zaman
hidupnya."
Ada
seorang Ahli Fiqh yaitu Ibrahim Ibnul Jarrah, ia sempat menjenguk Abu Yusuf
yang tengah sakit keras hampir wafat. Lalu atas kemurahan hati Abu Yusuf
sendiri, berkatalah ia kepada Ibrahim: Manakah yang lebih utama, melempar
jumrah dengan berkendaran atau dengan berjalan kaki? Ibrahim pun tidak bisa
menjawab, maka ia jawab sendiri : "Sesungguhnya melempar dengan berjalan
kaki itu lebih disukai oleh orang dahulu."
Demikian
pula, hendaknya sebagai Ahli Fiqh kapan saja selalu fokus dengan fiqhnya.
Dengan cara begitulah ia memperoleh kelezatan yang amat besar. Ada dikatakan,
bahwa Muhammad setelah wafat pernah ditemukan dalam mimpi, lalu kepadanya
diajukan pertanyaan : "bagaimana keadaan tuan waktu nyawa dicabut?"
jawabnya: "Di kala itu saya tengah mengangan-angan masalah budak mukatab,
sehingga tak kurasakan nyawaku telah terlepas. "Ada dikatakan pula bahwa
di akhir hayatnya Muhammad sempat berkata : "Masalah-masalah mukatab
menyibukan diriku, hingga tidak sempat menyiapkan diri dalam menghadapi hari
ini. "Beliau mengucap seperti ini, karena tawadlu'".
FASAL VIII
MASA BELAJAR
1.
Saat-saat Belajar
Ada dikatakan : "Masa belajar itu sejak manusia berada
di buaian hingga masuk keliang kubur. "Hasan bin Ziyad waktu sudah berumur
80 tahun baru mulai belajar fiqh, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur di
ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti.
Masa yang paling cemerlang untuk belajar adalah permulaan
masa-masa jadi pemuda, waktu sahur berpuasa dan waktu di antara magrib dan
isya.' Tetapi sebaiknya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk belajar, dan
bila telah merasa bosan terhadap ilmu yang sedang dihadapi supaya berganti
kepada ilmu lain. Apabila Ibnu Abbas telah bosan mempelajari Ilmu Kalam, maka
katanya: "Ambillah itu dia kitab para pujangga penyair?"
Muhammad
Ibnul Hasan semalam tanpa tidur selalu bersebelahan dengan buku-bukunya, dan
bila telah merasa bosan suatu ilmu, berpindah ilmu yang lain. Iapun menyediakan
air penolak tidur di sampingnya, dan ujarnya: "Tidur itu dari panas api,
yang harus dihapuskan dengan air dingin."
FASAL IX
KASIH SAYANG DAN NASEHAT
1.
Kasih Sayang
Orang alim hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi
nasehat serta jangan berbuat dengki. Dengki itu tidak akan bermanfaat, justru
membahayakan diri sendiri. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin ra. Berkata :
Banyak ulama yang berkata : "Putra sang guru dapat menjadi alim, karena
sang guru itu selalu berkehendak agar muridnya kelak menjadi ulama ahli
Al-Quran. Kemudian atas berkah I'tikad bagus dan kasih sayangnya itulah
putranya menjadi alim."
Sebuah
hikayat diketengahkan. Shadrul Ajall Burhanul Aimmah membagi waktu untuk
mengajar kedua orang putra beliau, yaitu Hasamuddin dan Tajuddin pada waktu
agak siang begini, minat kami telah berkurang lagi pula merasa bosan",
sang ayahpun menyahut' "sesungguhnya orang-orang perantauan dan
putra-putra pembesar itu pada berdatangan kemari dari berbagai penjuru bumi.
Karena itu mereka harus kuajar terlebih dahulu." Nah, atas berkah sang
ayah dan kasih sayangnya itulah, dua orang putra beliau menjadi alim fiqh yang
melebihi ahli-ahli lain yang hidup pada masa itu.
1.
Menghadapi Kedengkian
Selain tersebut di atas, orang alim hendaknya tidak usah turut
melibatkan diri dalam arena pertikaian dan peperangan pendapat dengan orang
lain, karena hal itu hanya membuat waktu menjadi habis sia-sia. Ada dikatakan:
"Pengamal kebajikan akan dibalas karena kebajikannya, sedang pelaku
kejelekan itu telah cukup akan memberatkan siksa dirinya." Syaikhul Islam
Az-Zahid Ruknuddin Muhammad bin Abu Bakar yang masyur dengan gelar Khowahir
Zadah Al-Mufti membawakan syi'ir untukku, katanya : Sulthanusi Syari'ah Yusuf
Al-Hamadani membawakan untukku syi'ir ini:
- Biarkan dia berbuat jelek atas dirimu Cukup atasnya, karena lakunya, apapun itu
Ada dikatakan : "Barangsiapa yang ingin memutuskan
batang hidung lawannya, maka bacalah syi'ir di bawah ini berulang kali"
dibawakan syi'ir itu buatku :
- Jikalau engkau, ingin musuhmu jadi terhina Terbunuh susah, terbakar derita
- Maka caranya capailah mulya, tambahlah ilmu Sebab orang dengki, tambah susahnya, Bila yang didengki, tambah ilmunya
Ada dikatakan : yang harus kauperhatikan adalah kebagusan
dirimu sendiri, bukan menghancurkan musuhmu. Apabila telah kau penuhi dirimu
dengan kebagusan, maka dengan sendirinya akan hancurlah musuhmu itu.
.
Jangan sampai ada pemusuhan, sebab selain hanya
membuang-buang waktu juga membuka cela-cela keaibanmu. Tahanlah dirimu dan
sabarlah hatimu, terutama sekali dalam menghadapi orang yang belum tahu. Isa
bin maryam bersabda: "sabarkanlah dirimu dalam menghadapi orang bodoh
satu, agar kau beruntung mendapat sepuluh perkara" syi'ir:
- Berabad-abad umat manusia telah kuuji Tapi jadinya malah cedrapun jengkelkan hati
- Tidak kulihat, ada perkara lebih menyusahkan Yang menyulitkan, selain bila orang bermusuhan
- telah kucicipi segala apa yang pahit rasa tapi tiada yang melebihi pahitnya minta
1.
Waspadalah, jangan berburuk sangka kepada sesama orang
Mu'min karena disitulah sumber permusuhan. Di dalam agama islam perbuatan itu
adalah terlarang, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Nabi saw: "Baikkanlah
prasangkamu kepada sesama mu'min."
Buruk
sangka akan bisa terjadi karena adanya niatan yang tidak baik, atau hatinya
jahat. Sebagaimana syai'ir yang dikemukakan oleh Abut Thoiyib :
- Bila seorang lakunya buruk, buruklah pula sangkaan hati apa kata wahamnyalah yang ia setujui
- Ia musuhi yang mencintainya, dan katanya "dia memusuhi" iapun bimbang, ditengah gelap malam menjadi
Syi'ir
sebagian ulama' dibawakan untukku :
- Biarkan saja, lelaku jelek usah kau balas Apa siapa yang kau bagusi, tambahlah terus
- Dari semua tipu musuhmu, kau kan dilindungi Jikalau musuh menipu kamu, jangan kau peduli Dibawakan untukku,
syi'ir
Syakhul Amid Abul Farhal-Basthiy:
- Orang alim tak akan selamat dari si bodoh Bila si bodoh melaliminya dan membuat kisruh
- damailah saja dengn si bodoh jangan kau serang bila sibodoh mau cerewet, tetaplah tenang
FASAL X
MENGAMBIL PELAJARAN
Hal 103
1.
Saat-saat Mengambil pelajaran
Pelajar hendaknya menggunakan setiap kesempatan waktunya
untuk belajar, terus-menerus sampai memperoleh keutamaan. Caranya dilakukan
bisa dengan selalu menyediakan botol wadah tinta untuk mencatat segala hal-hal
ilmiah yang didapatinya.
Ada dikatakan : Hapalan akan lari, tapi tulisan tetap
berdiri" dikatakan lagi: "Yang disebut ilmu yaitu segala apa yang
didapat dari ucapan ahli ilmu, karena mereka telah menghafal hal-hal yang bagus
dari hasil pendengarannya dan mengucapkan yang bagus itu dari hafalan
tersebut" saya mendengar ucapan Syaikhul Ustadz Zainul Islam yang terkenal
dengan gelar Adibul Mukhtar : Hilal bin Yasar berkata : "Kulihat Nabi saw.
Mengemukakan sepatah ilmu dan hikmah kepada sahabat beliau, lalu usulku:
"Ya Rasulullah, ulangilah untukku apa yang telah tuan sampaikan kepada
mereka" beliau bertanya kepadaku : "apakah engkau bawa botol
dawat?" jawabku : "tidak" beliaupun lagi bersabda : "Oh
Hilal, janganlah engkau berpisah dari botol dawat, karena sampai hari kiamat
kebagusan itu selalu disana dan pada yang membawanya".
Yang
mulya Hasanudin berwasiat kepada Syamsuddin putra beliau, agar setiap hari
menghafal sedikit ilmu dan sepatah hikmah. Hal itu mudah dilakukan, dan dalam
waktu singkat menjadi semakin banyak. Isham bin Yusuf membeli pena seharga satu
dinar guna mencatat apa yang ia didengar seketika itu. Umur cukup pendek,
sedang pengetahuan cukup banyak.
Pelajar jangan sampai membuang-buang waktu dan saatnya,
serta hendaknya mengambil kesempatan di malam hari dan di kala sepi. Dari Yahya
bin Mu'adz Ar-Razi disebutkan : "malam itu panjang, jangan kau potong
dengan tidur; dan siang itu bersinar cemerlang, maka jangan kau kotori dengan
perbuatan dosa".
1.
Mengambil Pelajaran Dari Para
Sesepuh
Hendaknya pelajar bisa mengambil pelajaran dari para sesepuh
dan mencecap ilmu mereka. Tidak setiap yang telah berlalu bisa didapatkan
kembali, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ustadz Syaikhul Islam dimsa tua
beliau : Banyaklah orang-orang tua yang agung ilmu dan keutamaannya, saya
ketemu tapi tidak mengambil sesuatu yang baik dari padanya, maka atas kelewatan
tersebut, kuberkata dalam mengubah satu bait syi'ir dibawah ini:
- Sayang seribu sayang, aku terlambat dan tak mendapat
Apapun
yang pana dan terlewat, tak mesti bisa didapat
Ali ra berkata : Jikalau kamu menghadapi suatu perkara, maka
tekunilah ia; berpaling dari ilmu Allah itu cukup akan membuat hina dan
menyesal; mohonlah perlindungan Allah di waktu siang dan malam agar tidak
melakukan tersebut diatas.
1.
Prihatin Dan Rendah Di Mata Manusia
Pelajar harus sanggup menanggung derita hidup yang
terpandang rendah di mata manusia, selama menuntut ilmu, karena seorang murid
itu harus bercumbu rayu dengan guru, temannya dan juga orang-orang lain untuk
mengambil pelajaran dari mereka.
Ada dikatakan : ilmu itu mulya tak bercampur hina, dan tak
didapati hanya lewat kehinaan tak bercampur kemulyaan" (maksudnya didapat
dengan penuh derita yang terpandang rendah dimata manusia).
Orang
berkata :
- Kulihat kamu, ingin supaya mulya dirimu Tak bakal bisa, kecuali dengan tundukkan nafsumu
FASAL XI
WARO' PADA MASA BELAJAR
1.
Waro'
Dalam masalah waro', sebagian ulama meriwayatkan hadist dari
Rasulullah saw. : "Barang siapa tidak berbuat waro' waktu belajarnya, maka
Allah memberinya ujian dengan salah satu tiga perkara : dimatikan masih berusia
muda, ditempatkan pada perkampungan orang-orang bodoh atau dijadikan pengabdi
sang pejabat". Jikalau mau membuat waro' maka ilmunya lebih bermanfaat,
belajarpun mudah dengan banyak-banyak berfaedah.
Termasuk berbuat waro' adalah memelihara dirinya jangan
sampai perutnya kenyang amat, terlalu banyak tidur dan banyak membicarakan hal
yang tak bermanfaat.
Dan menyingkiri makanan masak di pasar jika mungkin karena
makanan ini lebih mudah terkena najis dan kotor, jauh dari dzikrillah, bahkan
membuat lengah dari Allah, juga orang-orang fakir mengetahui sedang tidak mampu
membelinya yang akhirnya berduka lara, sehingga berkahnyapun menjadi hilang
karena hal-hal tersebut.
Suatu hikayat, syaikhul Jalil Muhammad Ibnul Fadl di waktu
masa belajarnya, adalah tidak pernah makan makanan pasar. Ayahnya sendiri
seorang dusun yang selalu mengiriminya setiap hari jum'at. Pada suatu hari,
sang ayah mengetahui ada roti pasar di kamar muhammad. Iapun marah, dan tidak
mau berbicara dengan sang putra. Muhammad matur dan katanya : saya tidak
membeli roti itu dan memang tidak mau memakannya, tetapi itu pemberian temanku,
ayah. Jawabnya : bila kau berhati-hati dan waro' niscaya temanmu takkan
sembarangan memberikan roti seperti itu. Demikianlah pelajar-pelajar zaman dulu
berbuat waro' dan ternyata banyak-banyak bisa memperoleh ilmu dan
mengajarkannya, hingga keharuman nama mereka tetap abadi sampai kiamat.
Ada seorang zuhud ahli fiqh berwasiat kepada seorang murid:
Jagalah dirimu dari ghibah dan bergaul dan bergaul dengan orang yang banyak
bicaranya. Lalu katanya lagi : orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan
membuang sia-sia waktumu."
Termasuk waro lagi hendaknya menyingkiri kaum perusak,
maksiat dan penganggur, sebab perkumpulan itu membawa pengaruh. Menghadap
kiblat waktu belajar, bercerminkan diri dengan sunah Nabi, mohon dido'akan oleh
para ulama ahli kebajikan dan jngan sampai terkena do'a tidak baiknya orang
teraniaya kesemuanya itu termasuk waro'.
1.
Menghadap Qiblat
Suatu
hikayat.
Ada dua orang pergi merantau untuk mencari ilmu. Merekapun
belajar bersama-sama. Setelah berjalan bertahun-tahun, mereka kembali pulang.
Ternyata satu alim, sedang satunya lagi tidak. Kemudian pernyataan ini menarik
perhatian para ulama' ahli fiqh daerah tersebut, lalu mereka bertanya kepada
dua orang tadi, mengenai perbuatannya waktu sedang mengulang sendiri
pelajarannya dan duduknya di waktu belajar. Atas hasil pertanyaan itu, mereka
mengetahui bahwa orang alim tadi setiap mengulang pelajarannya selalu menghadap
qiblat dan kota di mana ia mendapat ilmu. Tapi yang tidak alim, justru
membelakanginya. Dengan demikian ahli fiqh dan para ulama sepakat bahwa orang
yang menjadi alim tadi adalah atas berkahnya menghadap qiblat sebab itu
dihukumi sunah, kecuali bila terpaksa. Dan berkah orang-orang muslimin disana,
sebab kota tersebut tidak pernah kesepian dari orang-orang ibadah dan berbuat
kebajikan. Yang jelas, untuk setiap malam pasti ada walaupun satu orang ahli
ibadah yang mendo'akan kepadanya.
1.
Perbuatan Adab Dan Sunnah
Pelajar hendaknya tidak mengabaikan perbuatan-perbuatan yang
berstatus adab kesopanan, dan amal-amal kesunahan. Sebab siapa yang mengabaikan
adab menjadi tertutup dari yang sunah, yang mengabaikan sunah tertutup dari
fardlu, dan berarti tertutup dari kebahagiaan akhirat. Sebagian ulama' berkata:
"Seperti hadist dari Rasulullah saw."
Hendaknya pula banyak-banyak melakukan shalat dengan khusu'
sebab dengan begitu akan lebih memudahkan mencapai kesuksesan belajar. Syi'ir
gubahan Syaikhul Jalil Al-Hajjaj Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi
dibawakan untukku:
- Jadilah engkau, pengamal perintah penjaga larangan Jagalah selalu, ibadah shalat terus-terusan
- Pelajarilah ilmu Syari'ah sesungguh hati Pohonlah inayah dengan yang suci Kau kan menjadi ahli agama yang mengayomi
- Mohonlah agar kuat hapalan pada ilahi Demi cintamu fi fadlihi Dialah Allah, sebagus-bagus yang melindungi
Umar
An-nasafi berkata :
- Taatlah engkau, sesungguh hati jangan malas diri engkau semua, ke sisi Tuhan kan kembali
- Orang yang bagus, yang pendek tidur di malam hari Karena itu, berbuat tidur agar di singkiri
Pelajar hendaknya selalu membawa buku untuk dipelajari. Ada
dikatakan : "Barangsiapa tak ada buku di sakunya, maka tak ada hikmah di
hatinya." Lalu buku itu hendaknya berwarna putih. Juga hendaknya membawa
botol dawat, agar bisa mencatat segala pengetahuan yang di dengar. Sebagaimana
di atas telah kami kemukakan Hadist riwayat Hilal bin Yasar.
FASAL XII
HAL-HAL YANG MEMBUAT HAFAL DAN MUDAH LUPA
1.
Beberapa Sebab Kuat Hafalan
Yang paling kuat menyebabkan mudah hafal adalah kesungguhan,
kontinuitas, mengurangi makan dan shalat di malam hari. Membaca Al-Qur'an
termasuk penyebab hafalan seseorang, ada dikatakan : "Tiada sesuatu yang
lebih bisa menguatkan hafalan seseorang, kecuali membaca Al-Qur'an dengan
menyimak. "Membaca Al-Qur'an yang dilakukan dengan menyimak itu lebih
utama, sebagaimana sabda Nabi saw : "Amalan umatku yang paling utama
adalah membaca Al-Qur'an dengan menyimak tulisannya."
Syaddad bin Hakim pernah bermimpi ketemu temannya yang mati,
lalu bertanya: "Perbuatan apakah yang engkau rasakan lebih bermanfaat?
Jawabnya : "membaca Al-Qur'an dengan menyimak tulisannya."
Termasuk penguat hafalan lagi, yaitu waktu mengambil buku
berdo'a: Bimillahi wasubhanallohi walhamdulillahi wala illaha illallohu wallohu
akbar wala haula wala kuwwata illa billahil a'liyyil a'zhimil a'jijil a'limi
a'dada kulli harfin kutiba wayuktabu abadal abidina wadahroddahirina.
Artinya : (Dengan menyebut Asnma Allah, Maha suci Allah,
segal puji milik Allah dan tiad tuhan selain Allah yang Maha Agung, tiada daya
dan kekuatan selain atas pertolongan Allah Yang Maha Mulya Agung Luhur Lagi Mah
Mengetahui, sebanyak huruf yang tertulis dan akan di tulis, berabad-abad dan
sepanjang masa). Dan setiap selesai menulis berdo'a : Amantu billahil wahidi
wahdahu lasyarika lahu wakapartu bima siwahu.
Artinya: (Aku beriman kepada Allah Yang Tunggal, Maha Esa,
berkesendirian tiada teman dalam ketuhannaNya, dan saya hindari dari bertuhan
kepad selainNya.)
Dan
dengan banyak membaca shalawat Nabi saw. Karena shalawatlah yang menjadi dzikir
seluruh alam. Syi'ir disebutkan :
- Aku laporkan kepada ki Waki'; hafalanku lemah Ia menunjuki, agar kutinggal laku maksiat
- Hafalan itu, sebagai anugrah dari sisi Tuhan Orang yang maksiat tak diberi anugrah dari Tuhan
Bersiwak, minum madu, makan kandar (kemenyan putih),
bercampur gula dan menelan buah zabib merah 21 butir setiap hari, kesemuanya
dapat mempermudah hafal lagi dapat mengobati berbagai macam penyakit. Segala
sesuatu yang bisa mengurangi pelendiran dahak dan mengurangi pelemakan kulit
badan yang diakibatkan terlalu banyak makan, adalah juga bisa memperkuat
hafalan. Sesuatu yang memperbanyak lendir dahak, akan membuat orang jadi
pelupa.
1.
Penyebab Lupa
Penyebab lupa adalah laku maksiat, banyak dosa, gila dan
gelisah karena urusan dunia. Seperti telah kami kemukakan di atas, bahwa orang
yang berakal itu jangan tergila-gila dengan perkara dunia, karena akan
membahayakan dan sama sekali tidak ada manfaatnya. Gila dunia tak lepas dari
akibat kegelapan hati, sedang gila akhirat tak lepas dari akibat hati bercahaya
yang akan tersakan di kala shalat. Kegilaan dunia akan menghalangi berbuat
kebajikan, tetapi kegilaan akhirat akan membawa kepada amal kebajikan.
Membuat dirinya terlena melakukan shalat dengan khusu dan
mempelajari ilmu pengetahuan itu dapat menghilangkan kekacauan dalam hati,
sebagaimana tersebut di dalam gubahan Syaikhul Islam Nasrhr Ibnul Hasan
Al-Marghibani :
- Pohonlah inayah, oh Nasr putra Al-Hasan Untuk mencapai ilmu yang tersimpan
- Hanya itu, yang bisa membuang duka Selain itu, jangan percaya
Syaikhul
Imam Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi dalam menyifati jariyah Ummi
waladnya, tergubah beberapa bait syi'ir :
- Salamku buat si dia, yang membuatku terpesona karena lembut tubuhnya Halus pipinya dan giuran kerdipan matanya
- Si cantik molek, diriku jadi tertahan, hatikupun tertawan Hati kebingungan, bila bermaksud tuk menggambarkan
- Aku berkata : tinggalkan daku, maafkan aku Karena kusibuk membuka jalan dan menuntut ilmu
- Selama aku mencari utama dan taqwa Tak perlu lagi, rayuan si cantik dan harum baunya
Sebab-sebab yang membuat mudah lupa, yaitu makan ketumbar,
buah apel masam, melihat salib, membaca tulisan pada kuburan, berjalan
disela-sela unta terakit, membuang ke tanah kutu yang masih hidup, dan berbekam
pada tengkuk kepala. Singkirilah itu semua, karena membuat orang jadi pelupa.
FASAL XIII
HAL-HAL YANG MENDATANGKAN RIZKI DAN MENJAUHKAN DAN YANG
MEMPERPANJANG USIA SERTA YANG MEMOTONG
1.
Saran Extern Untuk Belajar
Kemudian dari pada itu, sudah semestinya pelajar butuh
makanan. Dengan demikian, perlulah mengetahui hal-hal apa yang dapat
mendatangkannya secara lebih banyak, mengetahui hal-hal yang menyebabkan
panjang usia dan badan sehat. Agar dengan begitu, bisa mempertahankan
konsentrasi belajarnya. Untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut, telah banyak para
ulama' yang menyusun kitabnya. Disini hanya akan kami kemukakan dengan singkat
saja.
1.
Pendatang Rizki
Rasulullah saw bersabda : 'Hanyalah do'a yang merubah
taqdir, dan hanyalah kebaktian yang bisa menambah usia. Dan sesungguhnya
lantaran perbuatan dosanya, rizki seseorang menjadi tertutup. Terutama berbuat
dusta adalah mendatangkan kefakiran, sebagaimana dalam hadist lain, secara
khusus telah dikemukakan.
Demikian pula, tidur di pagi hari dan banyak tidur, keduanya
mengakibatkan kemelaratan harta. Dan juga kemelaratan ilmu. Penyair berkata:
- Kebahagian hati terletak pada memakai sandangan Tidak mengantuk, jadi kuncinya ilmu terkumpulkan
- Bukankah kerugian, jikalau telah bermalam-malaman Tanpa manfaat umur berjalan
- Jagalah di malam hari, mungkin di sini tiba petunjukmu Berapa malam engkau tidur melulu Sedang umurmu ikut berlalu
Tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan
dalam keadaan junub atau sambil bertelekan, membiarkan sisa makanan berserakan,
membakar kulit berambang atau dasun, menyapu lantai dengan kain, atau di waktu
malam, Membiarkan sampah berserakan mengotori rumah, lewat di depan pini sepuh,
Memanggil orang tua tanpa gelar (seperti pak, mas, dan sebagainya.)
membersihkan sela gigi dengan benda kasar, melumurkan debu atau debu pada
tangan, duduk di beranda pintu, bersandar pada daun pintu, berwudhu di tempat
orang istirahat, menjahit pakaian yang sedang di pakai, menyeka muka dengan
kain, membiarkan sarang lebah berada dirumah, meringankan shalat, bergegas
keluar masjid setelah shalat Shubuh, pergi ke pasar pagi-pagi, membeli makanan
dari peminta-minta, mendo'akan buruk kepada anak, membiarkan wadah tidak
tertutupi, mematikan lampu dengan meniup, kesemuanya itu dapat mendatangkan kepakiran
sebagaimana yang diterangkan dalam atsar.
Dan Lagi : Menulis dengan pena rusak, menyisir dengan sisir
yang rusak, tidak mau mendo'akan bagus kepada orang tua, memakai serban sambil
berdiri, memakai celana sambil duduk, kikir, terlalu hemat, atau berlebih-lebihan
dalam membelanjakan harta, bermalasan dan menunda atau menyepelekan suatu
urusan semuanya membuat fakir seseorang. Rasulullah saw bersabda :
"Himbaulah datangnya rizki dengan cara bersedekah."
Bangun pagi-pagi itu di berkahi dan membawa berbagai macam
kenikmatan, khususnya rizki. Bisa menulis bagus itu adalah pintu rizki. Air
muka berseri dan tutur kata manis akan menambah banyak rizki. Disebut dari
Al-Hasan bin Ali ra.: "Menyapu lantai dan mencuci wadah, menjadi sumber
kekayaan".
Penyebab terkuat untuk memperoleh rizki adalah melakukan
shalat dengan rasa ta'dzim, khusu, dengan menyempurnakan segala rukun, wajib,
sunah dan adabnya. Demikian pula melakukan shalat dhuha, seperti yang telah
dikenal. Juga membaca surat waqi'ah, khususnya di malam hari sewaktu orang
tertidur; membaca surat Al-Mulk, Al-Muzammil, Al-lail dan Al-insyirah; telah
datang di mesjid sebelum dikumandangkan adzan; selalu suci; melakukan shalat
sunat sebelum shubuh; dan melakukan shalat witir di rumah, lalu jangan berbicara
urusan dunia sesudahnya dilakukan.
Termasuk
penyebabnya lagi, yaitu jangan terlampau banyak bergaul dengan wanita, kecuali
bila ada keperluan yang baik.
Jangan
pula omong kosong yang tidak berguna untuk agama dan dunianya. Ada dikatakan :
"siapa yang tersibukkan oleh perbuatan yang tanpa guna bagi dirinya."
Maka yang semestinya akan berguna menjadi terlewat darinya. "Bazarjamhar
berkata: "Bila melihat orang yang banyak bicara, percayalah ia telah
gila."
Ali ra telah berkata : "Bila telah sempurna akal pikiran,
maka menguranglah ucapan." Pengarang kitab berkata : kugubah syi'ir yang
bersesuaian dengan ma'na perkataan itu:
- Jikalau orang berakal sempurna, sedikitkan bicara Bila seorang banyak bicara Dialah tolol yakini dia
Lain orang berkata :
- Bicara adalah hiasan, diam itu keselamatan Bila kamu berbicara, makanya jangan berlebihan
- lantaran diam, engkau menyesal, tapi sekali karena omong, kamupun menyesal berkali-kali
Diantara perbuatan yang menambah rizki lagi, adalah membaca
do'a di waktu antar terbit fajar hingga masuk waktu shalat. Do'anya yaitu :
Subhannallahil wabihamdihi astagfirullahu wa atubu ilaihi.
Artinya
: (Maha Suci Allah Maha Agung, Maha Suci Allah dan dengan pujin-Nya, kumohon
ampunan dan bertobat kepada-Nya) berulang 100 kali.
Setiap
pagi dan petang membaca do'a : Laillaha illallahul malikul haqqul mubin. (Tiada
Tuhan selain Allah, Raja yang Benar dan Maha Jelas) berulang 100 kali;
tiap-tiap sesudah pajar dan magrib berdo'a : Al-Hamdulillahi wasubhanallohi
wala ilaha illallah. (Segala puji bagi Allah, Maha suci Allah dan tiada tuhan
selain Allah) berulang 33 kali. sesudah shalat shubuh membaca istigfar 70 kali;
memperbanyak ucapan : Lahaula wala kuwwata illa billahil a'liyyil a'dzim (Tiada
daya dan kekuatan melainkan dari pertolongan Allah yang Mha Mulya Lagi Maha
Agung) beserta shalawat Nabi saw.
Di hari jum'at membaca : Allahumma agnini bihalalika
a'nharomika wakfini bifadlika a'man siwaka (Ya Allah cukupkan aku dengan yang
halal dari yang haram, cukupilah aku dengan anugrahmu daripada selain Kamu)
berulang 70 kali; setiap siang dan malam, membaca pujian : Antallahul a'jijul
hakim antallahul malikul kuddusu antallahu halimul karimu antllahu kholikul
khoiri wa syarri antallahu kholikul jannati wan nari a'limul ghoibi wasyahadati
a'limus syirri wa akhfa antallahul khabirul muta'alu antallahu kholiku khulli
syai'in wailaihi yau'du kulli syai'in antallahu dayyanu yaumiddinni lam tajal
wala tajalu antallahu lailla hailla anta antallahul ahadhus shamadu lam yalid
walam yulad walam yakul lahu khufuwan ahad antallahu laillaha illa antar
rohmanur rohimu antallahu laillaha illa antal khilikul bari'ul mushowwiru lahul
asma'ul khusna yusabbihu lahu ma pissamawati wal ardhi wahuwal a'jijul hakim.
(Engkaulah Allah Yang Maha Mulya dan lagi Maha Bijaksana).
1.
Penambah Usia
Diantara sebab usia menjadi panjang, ialah berbuat bakti,
menyingkiri perbuatan yang menyakitkan orang lain, menghormati sesepuh dan
bersilatu rahmi. Demikian pula, di setiap pagi dan sore selalu membaca :
Subhanallahi milal mijani wamuntahal ilmi wamablaghar ridha wajinatal arsyi
wala illaha illallahu mil'al mijani wamuntahal ilmi wamablaghar ridha wajinatal
arsyi wallahu akbar mil'al mijani wamuntahal ilmi wamablaghar ridha wajinatal
arsyi. (Maha suci Allah dengan sepenuh mijan sejauh ilmu sejauh ridha setimbang
arasy, tiada tuhan selain Allah dengan sepenuh mizan sejumlah ilmu sejauh ilmu
setimbang arasy, dan Allah Maha Agung dengan sepenuh mizan sejumlah ilmu sejauh
ridha setimbang arasy berulang 3 kali)
Disamping itu, hendaknya jangan menebang pepohonan yang
masih hidup kecuali atas terpaksa, melakukan wudlu dengan sempurna, melakukan
shalat dengan ta'dhim, haji qiran dan memelihara kesehatan.
1.
Kesehatan Badan
Tiada boleh tidak, seseorang harus tahu sebagian ilmu
kesehatan, dan mengambil berkah dari beberapa atsar mengenai kesehatan. Hal ini
sebagaimana terhimpun dalam buku Syaikhul Imam Abul Abbas Al-Mustaghfiri yang
berjudul "Thibin Nabi Saw." Buku ini bisa ditemukan oleh orang yang
mau mencarinya.
Segal puji bagi Allah, Shalawat dan Salam semoga melimpah kepada baginda Muhammad, Rasul
Komentar
Posting Komentar